← Kembali ke pusat panduan

Panduan UMKM

Contoh perhitungan modal usaha makanan

Contoh ini menunjukkan alur dari belanja satu kali produksi sampai harga jual. Gunakan angka usaha Anda sendiri karena resep, harga bahan, porsi, dan biaya tenaga dapat berbeda.

Ditulis dan diperiksa oleh HitungLaris • Diterbitkan 14 Juli 2026 • Bacaan 5 menit

Contoh biaya satu kali produksi

Anggap sebuah usaha rumahan membuat 20 cup puding. Biaya bahan utama dan pelengkap Rp32.000, kemasan Rp10.000, gas serta listrik Rp5.000, upah produksi Rp10.000, dan ongkos belanja Rp3.000.

Total biaya sebelum cadangan susut adalah Rp60.000. Catat berdasarkan jumlah yang benar-benar digunakan untuk produksi, bukan seluruh ukuran kemasan bahan bila masih ada sisa.

  • Bahan resep: Rp32.000.
  • Kemasan 20 cup: Rp10.000.
  • Gas dan listrik: Rp5.000.
  • Upah produksi: Rp10.000.
  • Ongkos belanja: Rp3.000.
  • Total sebelum susut: Rp60.000.

Tambahkan susut dan hitung HPP

Gunakan cadangan susut 3% untuk menampung bahan tumpah, hasil gagal, atau selisih kecil. Tiga persen dari Rp60.000 adalah Rp1.800 sehingga total modal produksi menjadi Rp61.800.

Jika seluruh produksi menghasilkan 20 cup yang dapat dijual, HPP per cup adalah Rp61.800 dibagi 20, yaitu Rp3.090. Bila hanya 19 cup yang layak dijual, pembaginya harus 19 dan HPP menjadi lebih tinggi.

  • Cadangan susut = Rp60.000 × 3% = Rp1.800.
  • Total modal = Rp60.000 + Rp1.800 = Rp61.800.
  • HPP per cup = Rp61.800 ÷ 20 = Rp3.090.

Tentukan harga jual dari target margin

Dengan target margin 35%, harga sebelum pembulatan adalah Rp3.090 dibagi 0,65, yaitu sekitar Rp4.754. Harga dapat dibulatkan ke atas menjadi Rp5.000 agar mudah digunakan.

Pada harga Rp5.000, laba kotor per cup adalah Rp1.910 dan margin aktual sekitar 38,2%. Periksa kembali apakah ada biaya penjualan seperti komisi aplikasi, subsidi ongkir, atau diskon yang belum masuk.

  • Harga sebelum pembulatan: sekitar Rp4.754.
  • Harga jual setelah pembulatan: Rp5.000.
  • Laba kotor per cup: Rp1.910.
  • Potensi omzet jika 20 cup terjual: Rp100.000.

Bedakan modal produksi dan modal awal

Modal produksi adalah biaya yang berulang untuk membuat barang. Modal awal dapat mencakup panci, kompor, kulkas, meja, izin, desain kemasan, dan perlengkapan yang dipakai lebih dari satu periode.

Alat tahan lama tidak harus dibebankan seluruhnya pada satu produksi. Catat penyusutannya sebagai biaya tetap bulanan, lalu gunakan kalkulator target penjualan untuk mengetahui jumlah produk yang perlu terjual agar biaya tetap dan target laba tertutup.

  • Pisahkan alat tahan lama dari bahan habis pakai.
  • Sediakan kas untuk beberapa putaran produksi, bukan hanya produksi pertama.
  • Catat stok tersisa agar tidak dihitung dua kali.
  • Perbarui HPP ketika harga bahan atau ukuran porsi berubah.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah modal awal harus kembali dari penjualan pertama?

Tidak harus. Peralatan biasanya digunakan dalam banyak periode. Tentukan masa pakai yang masuk akal, lalu masukkan bagian biayanya secara bertahap sebagai penyusutan atau biaya tetap.

Apakah stok bahan yang tersisa termasuk kerugian?

Tidak jika masih layak dan akan dipakai. Catat sebagai persediaan. Hanya bagian yang digunakan, rusak, atau terbuang yang masuk ke biaya periode tersebut.

Berapa cadangan susut yang tepat?

Gunakan catatan produksi nyata. Jika belum ada data, persentase kecil dapat menjadi perkiraan awal, lalu disesuaikan setelah beberapa kali produksi.

Pelajari berikutnya